Hangouts

Ini ni travel alias jalan-jalan gua sama temen kampus, bisa dibilang sih...dadakan, dan gilanya lagi, dari temen-teman gua itu banyak yang gak mandi x_x. 
Sumpah !!! ini seru abiss banyak cerita dibalik ini semua mulai dari Cintaa-cintaann..uhuyyy, ada yang "scared" gitu sama jembatan gantung ini, sampe-sampe bisa bikin jangkrik di hutan ketawa. 
Dago Pakar, itulah nama tempat yang satu ini, salah satu tempat tersejuk di Bandung, tapi masih sejukan Pagaralam sihh...


masa-masa ini akan sulit terulang men, ada salah satu dari sahabat kita yang pergi dengan sejuta mimpi dan harapannya yang kami rasa itu indah banget sampe-sampe kita dibuat "fly away"...#narsis!!!
dibalik itu semua, yang cowok-cowok, itu rambut bisa dibilang sih WIG (rambut oplosan), karna kenyataannya sekarang rambut kami dibotakin abis pas acara PAB (Penerimaan Anggota Botak, eh salah Baru maksudnya). banyak yang nentang pas acara, tapi yaa itu lah gimana lagi `regulation`
balik lagi ke jalanan, waktu pada saat ini dan itu O_o kami masuk goa apa gua sih? goa aja deh biar kece, yang lebih tepatnya Goa Belanda, amazinngg banget lah ngeliat sejarah-sejarah gitu, dimana pada saat itu goa tersebut dipakai sebagai tempat pembantaian oleh penjajah terhadap masyarakat pribumi , sekarang ? jangan sampe terulang !!!
pernah juga dipakai sebagai gudang mesiu oleh pemerintahan Indonesia, waahhh coba diledakin pasti seru, kayak tahun baruan gituu..
next lagi ke gua Jepang kalo Jepang pake gua aja lah, biar asa di jakartee, Gua Jepang masih terlihat alamiah dibanding Goa Belanda, dari tekstur lantai, pentilasi, pokoknya interiorlah.. suasana dingin itu terasa banget men, bayangin ada tempat tidur kaisar Jepang dulu yang tempatnya itu gila Gadang abiss, kalo manusia sekarang bisa muat 8 orang, itu tidur apa tempet ngeliwet yaa atau mungkin istri nya banyak yaa??? Oh please men positive think !! tapi bisa jadi juga sih #confused =D
Ini ni our pic on :



finally, ini nih kalo mau tau lebih lanjut apa itu Dago Pakar : http://tahuradjuanda.jabarprov.go.id/tentang-tahura/selayang-pandang/
 

Permaslahan Belajar dan Pembelajaran

“PENGARUH KENAKALAN REMAJA DALAM PENDIDIKAN






Kenakalan remaja di era global sekarang ini telah menjadi problematika kehidupan yang sangat dominan, dimana remaja-remaja sekarang terutama di Indonesia telah terpengaruhi oleh budaya-budaya dan nilai sosial yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah tertentu. ada banyak faktor yang menyebabkan kenakalan remaja itu terjadi mulai dari aspek keluarganya sendiri, aspek relavansi dengan teman, dan aspek kegiatan di sekolah.
Penyebab kenakalan remaja yang pertama, yaitu aspek keluarga atau bisa disebut juga aspek primer. Anak tumbuh dan berkembang akan di didik oleh orangtuanya atau pengasuhnya, mulai dari dalam kandungan hingga tumbuh menjadi dewasa. Dalam proses petumbuhan dan perkembangan tersebut akan ada fenomena-fenomena yang sering berimbas buruk baik bagi anak tersebut, misalnya dalam mendidik anak, orangtua tersebut mengajarkan apa yang belum seharusnya ia terima dalam jangka umur tetentu. Psikologis dan atau tingkahlaku anak akan terganggu dengan hal tersebut dan pada akhirnya anak tersebut akan mencari tahu apa yang ia dapat. Contoh real nya yaitu oang tua mengajak anaknya yang berumur 7 tahun untuk menyaksikan film action, film tersebut akan banyak menayangkan adegan-adegan berkelahi dan lain sebagainya, imbasnya anak tersebut akan menelaah apa yang ia lihat lalu ia akan tuangkan dan ia implementasikan di kehidupan sehari-harinya. Kerukunan rumah tangga juga menjadi faktor yang juga memiliki pengaruh besar dalam prilaku anak, dimana telah sering terdengar istilah broken home atau suatu kondisi dimana didalam keluarga tersebut terjadi kekacauan berumah tangga. Hal ini dapat menyebabkan anak menjadi tidak terkendali, anak tidak bisa melihat rumah tangga yang berantakan, dengan demikian anak juga akan mencari sendiri kasih sayang kepada orang lain. Contoh, suatu keluarga ini memiliki kekacauan antara suami dan istri, lalu bercerai. Tingkah laku anak tersebut berubah yang mana ia dulu tidak pernah keluar malam, tetapi sekarang ia hampir tiap malam berkeluyuran hingga melupakan kewajibannya untuk sekolah. Oleh karena itu, betapa pentingnya kerukunan berumah tangga dan bagaimanapun keluarga akan tetap menjadi pengaruh primer yang harus memiliki akredibilatas yang baik.
Kedua yaitu aspek relavansi dengan teman atau orang lain, teman merupakan faktor yang mudah mempengaruhi sikap dan tingkah laku dalam setiap individu remaja. Dalam dunianya remaja akan sering menemukan teman yang bermacam-macam karakteristik mulai dari teman yang baik, setengah baik, dan teman yang jahat. Dari hal tesebut anak akan sangat mudah terpengaruh, dimana pada saat remaja anak baru memulai menemukan jati dirinya. Dala proses menemukan jati diri tersebut faktor eksternal adalah faktor yang paling berbahaya bila tidak dicern terlebih dahulu dalam berteman atau dalam memilah teman mana yang baik dan mana yang jahat. Dalam contoh konkritnya banyak remaja sekarang yang menyalahgunakan narkoba, terlebih hal itu dominan dipengauhi oleh temannya sendiri. Dan sekarang sedang maraknya aksi brutal dari para pelajar dimana telah sering terjadi tawuran antar pelajar yang dianggap hal tersebut sebagai cara untuk penyelesaian masalah dan sekaligus proses tumbuh kembangnya pemikiran untuk destroyed/mengahancurkan, hal tersebut semuanya notabene berawal dari pengaruh teman-teman/relavansinya sendiri. Dengan demikian sebagai calon penerus bangsa pengaruh terbesarnya bagaimana pendidikan remaja tersebut akan terganggu dan akan menyebabkan masa depannya hancur.

Terakhir yang ketiga, yaitu aspek kegiatan disekolah. Sekolah merupakan tempat dimana akan banyak asosiasi dari remaja-remaja yang berasal dari berbagai latar belakang. Dalam sekolah tersebut akan ada pendidik yang disebut-sebut sebagai orangtua di sekolah, pengaruh seorang pendidik juga tidak kalah pentingnya dengan orangtua dirumah. Pada saat kegiatan belajar dan pembelajaran guru juga harus menanamkan aspek-aspek normatif dan peringatan yang bersifat membangun dan memperbaiki. Karena dengan dilakukannya hal tersebut sebagai seorang pendidik yang kompetitif bisa meminimalisir terjadinya kenakalan remaja baik itu disekolah maupun dilingkungan masyarakat. Seorang pendidik dan sistem pembelajarannya juga bisa mempengaruhi apa yang diterima oleh peserta didiknya, mulai dari tingkah laku pendidik, metode belajarnya, pengorganisasian didalam kelas, memahami terhadap kejiwaan/psikologis peserta didik, pembatasan materi yang sesuai dengan koridornya, dll.
 

Taksonomi Bloom


Merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali disoleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya.usun

Tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:

1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.

2. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.

3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.

Beberapa istilah lain yang juga menggambarkan hal yang sama dengan ketiga domain tersebut di antaranya seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro, yaitu: cipta, rasa, dan karsa. Selain itu, juga dikenal istilah: penalaran, penghayatan, dan pengamalan.

Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah, seperti misalnya dalam ranah kognitif, untuk mencapai “pemahaman” yang berada di tingkatan kedua juga diperlukan “pengetahuan” yang ada pada tingkatan pertama.


Domain Kognitif 

Bloom membagi domain kognisi ke dalam 6 tingkatan. Domain ini terdiri dari dua bagian: Bagian pertama berupa Pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa Kemampuan dan Keterampilan Intelektual (kategori 2-6)

Pengetahuan (Knowledge)

Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen kualitas, orang yg berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum untuk produk.

Aplikasi (Application)

Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yg berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram.

Analisis (Analysis)
Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisis informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan.

Sintesis (Synthesis)

Satu tingkat di atas analisis, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.

Evaluasi (Evaluation)

Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yg sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis, dsb.


Domain Afektif 

Pembagian domain ini disusun Bloom bersama dengan David Krathwol.

Penerimaan (Receiving/Attending)

Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.

Tanggapan (Responding)

Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.

Penghargaan (Valuing)

Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.

Pengorganisasian (Organization)

Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.

Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex)

Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.


Domain Psikomotor 

Rincian dalam domain ini tidak dibuat oleh Bloom, tapi oleh ahli lain berdasarkan domain yang dibuat Bloom.

Persepsi (Perception)

Penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.

Kesiapan (Set)

Kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan gerakan.

Guided Response (Respon Terpimpin)

Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi dan gerakan coba-coba.

Mekanisme (Mechanism)
Membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap.

Respon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response)

Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks.

Penyesuaian (Adaptation)

Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.

Penciptaan (Origination)

Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi, kondisi atau permasalahan tertentu.

Sumber : "Taksonomi Bloom". http://id.wikipedia.org/wiki/. diakses tanggal 7 Desember 2013. pukul 17.05