Resume Teori Belajar Humanistik

A. Konsep Dasar Teori Humanistik
Teori ini membahas kemampuan dan potensi orang-orang saat mereka memilih dan mencari control atas hidup mereka. Menitik-beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya, nilai-nilai, tanggung jawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan. Tujuan belajar adalah untuk memanusiakan seorang manusia untuk mampu mengaktualisasikan diri dalam hidup dan penghidupannya. Konsep belajar humanistik berangkat dari aliran psikologi humanistik. Belajar harus berorientasi pada peserta didik sebagai subjek belajar. Untuk memahami seseorang, kita harus mempelajari perilakunya, pikiran, dan perasaan mereka.
Pendidikan yang efektif menurut aliran ini adalah pendidikan yang berpusat pada minat, dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik. Pendekatan Humanistik mengedepankan pentingnya emosi dalam dunia pendidikan. Pendekatan humanistik dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif. Belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Teori Humanistik menekankan kognitif.

B. Tokoh-tokoh dalam Teori Humanistik

  • Abraham Maslow
  • Carl Ransom Rogers
  • Arthur Combs
  • Kolb
  • Honey dan Mumford
  • Habernas
  • Bloom dan Krathwohl

C. Asumsi

  • Abraham Maslow mengatakan bahwa di dalam diri individu ada dua hal:
  1. Suatu usaha yang positif untuk berkembang
  2. Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu
Lalu Maslow juga mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan psikologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan rasa aman dan seterusnya.
dan beliau juga memfokuskan pada individu secara keseluruhan, bukan hanya satu aspek individu, dan menekankan kesehatan daripada sekedar penyakit dan masalah.
  • Carl Ransom Rogers menyebutkan bahwa teorinya bersifat humanistik dan menolak pesimisme suram dan putus asa dalam psikoanalisis serta menentang teori behaviorisme yang memandang manusia seperti robot. Teori humanisme Rogers lebih penuh harapan dan optimis tentang manusi karena manusi mempunyai potensi-potensi yang sehat untuk maju.
     Asumsi dasar teori Rogers yaitu :
  •  Kecendrungan formatif, segala hal di dunia tersusun dari hal-hal yang lebih kecil
  • Kecendrungan aktualisasi, kecendrungan setiap makhuk hidup untuk bergerak menuju kesempurnaan atau pemenuhan potensi dirinya.


D. Kelebihan & Kekurangan Teori Humanistik
(+)
• Bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, analisis terhadap fenomena sosial.
• Siswa merasa senang, berinisiatif dalam belajar,.
• Guru menerima siswa apa adanya,memahami jalan pikiran siswa.
• Siswa mempunyai banyak pengalaman yang berarti
• Menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri; membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah.
• Indikator dari keberhasilan aplikasi ini ialah siswa merasa senang dan bergairah
• Terjadinya perubahan pola pikir
• Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara tanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang-orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin, atau etika yang berlaku
• Siswa dituntut untuk berusaha agar lambat laun mampu mencapai aktualisai diri dengan sebaik-baiknya.

(-)
• Bersifat individual.
• Proses belajar tidak akan berhasil jika tidak ada motivasi dan lingkungan yang mendukung.
• Sulit diterapkan dalam konteks yang lebih praktis
• Peserta didik kesulitan dalam mengenal diri dan potensi-potensi yang ada pada diri mereka.
• Siswa yang tidak mau memahami potensi dirinya akan ketinggalan dalam proses belajar.
• Siswa tidak aktif dan malas belajar akan merugikan diri sendiri dalam proses belajar
• Peran guru dalam proses pembentukan dan pendewasaan kepribadian siswa menjadi berkurang
• Keberhasilan proses belajar lebih banyak ditentukan oleh siswa itu sendiri

E. Karakteristik Teori Humanistik

  • Mementingkan manusia sebagai pribadi
  • Mementingkan kebulatan pribadi
  • Mementingkan peranan kognitif dan afektif
  • Mengutamakan terjadinya aktualisasi diri dan self concept
  • Mementingkan persepsual subjektif yang dimiliki tiap individu
  • Mementingkan kemampuan menentukan bentuk tingkah laku sendiri
  • Mengutamakan insight (pengetahuan/pemahaman) (Suprayogi, 2005).

F. Prinsip Teori Humanistik
1. Manusia memiliki kemampuan alami untuk belajar
2. Belajar menjadi signifikan apabila apa yang dipelajari memiliki relevansi dengan keperluan mereka
3. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya
4. Tugas belajar dapat lebih diterima dan diasimilasikan apabila ancaman dari luar itu semakin kecil
5. Bila ancaman itu rendah terdapat pengalaman siswa dalam memperoleh cara belajar yang bermakna diperoleh jika siswa melakukannya
6. Belajar lancar jia siswa dilibatkan dalam proses belajar
7. Belajar yang melibatkan siswa seutuhnya dapat memberi hasil yang mendalam
8. Kepercayaan pada diri siswa ditumbuhkan dengan membiasakan untuk mawas diri
9. Belajar sosial adalah belajar mengenai proses belajar

G. Implementasi terhadap pembelajaran
Guru Sebagai Fasilitator :
• memberi perhatian dan motivasi
• membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum
• Memahami karakteristik siswa
• mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar
• Dapat menyesuaikan dirinya bersama siswanya
• Berbaur dengan siswanya, berkomunikasi dengan sangat baik bersama siswanya
• Dapat memahami dirinya dan tentunya agar dapat memahami siswanya
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
• Merumuskan tujuan belajar yang jelas
• Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif.
• Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri
• Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri
• Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukan apa yang diinginkan dan menanggung risiko dari perilaku yang ditunjukkan.
• Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
• Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
• Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa

Sumber :
Catatan Pribadi
Presentasi Kelompok
Mahmud. 2013. "Teori Humanistik dan Tokoh-tokohnya" http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com (online). diakses tanggal 28 November 2013 pukul 21.15



 

Resume Teori Belajar Konstruktivisme


       A.    Konsep Dasar

Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti:

  •       Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.
  •       Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.
  •      Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling memengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru
  •       Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.
  •      Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah.
  •     Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai keterkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik minat pelajar.
Para ahli konstruktivisme memandang bahwa belajar sebagai hasil dari konstruksi mental. Para siswa belajar dengan mencocokkan informasi baru yang mereka peroleh bersama-sama dengan apa yang telah mereka ketahui. Siswa akan dapat belajar dengan baik jika mereka mampu mengaktifkan konstruk pemahaman mereka sendiri.

Menurut para ahli konstruktivisme, belajar juga dipengaruhi oleh konteks, keyakinan , dan sikap siswa. Dalam proses pembelajaran para siswa didorong untuk menggali dan menemukan pemecahan masalah mereka sendiri serta mencoba untuk merumuskan gagasan-gagasan dan hipotesis. Mereka diberikan peluang dan kesempatan yang luas untuk membangun pengetahauan awal mereka. 

      B.     Tokoh

Jian Piaget
Vygotsky
John Dewey

      C.     Asumsi

Jian Piaget : Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa penekanan teori kontruktivisme pada proses untuk menemukan teori atau pengetahuan yang dibangun dari realitas lapangan. Peran guru dalam pembelajaran menurut teori kontruktivisme adalah sebagai fasilitator atau moderator. Piaget juga menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui :
  1. Skemata,
  2. Asimilasi,
  3. Akomodasi, dan
  4. Keseimbangan.
Vygotsky : Menyatakan bahwa siswa dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial.  Konstruktivisme ini oleh Vygotsky disebut konstruktivisme social (bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik).
Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky, yaitu
  1. Zone of Proximal Development (ZPD)
  2. scaffolding.
John Dewey : Ia menguatkan kembali bahwa teori konstruktivisme ini mengatakan bahwasanya pendidik yang cakap harus melaksanakan pengajaran dan pembelajaran sebagai proses menyusun atau membina pengalaman secara berkelanjutan. Beliau juga menekankan kepentingan penyertaan murid di dalam setiap aktivitas pengajaran dan pembelajaran.

       D.    Kelebihan dan Kekurangan

(+)

Berfikir : Dalam proses membina pengetahuan baru, murid berfikir untuk menyelesaikan masalah, menjadikannya gagasan dan membuat keputusan.
Faham : Oleh karana murid terlibat secara langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih faham dan boleh mengapliksikannya dalam semua situasi.
Ingat : Oleh karena murid terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep. Melalui pendekatan ini pesrta didik membina sendiri kefahaman mereka. Dengan ini justru mereka lebih yakin menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi baru.
Kemahiran sosial : Kemahiran sosial diperolehi apabila berinteraksi dengan rekan dan guru dalam membina pengetahuan baru.
Seronok : Oleh kerana mereka terlibat secara terus, mereka faham, ingat, yakin dan berinteraksi dengan sehat, maka mereka akan merasa kondusif dalam belajar untuk membina pengetahuan baru.

(-)

Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik sepertinya kurang begitu mendukung.

       E.     Karakteristik

Adapun karakteristik pembelajaran secara kontruktivisme:

  • Memberi peluang kepada murid membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam dunia sebenarnya.
  • Menggalakkan persoalan/ide yang dimulai oleh murid dan menggunakannya sebagai panduan dalam merancang pengajaran.
  • Menyokong pembelajaran secara kooperatif mengambil sikap dan pembawaan murid.
  • Mengambil kajian bagaimana murid belajar pada sesuatu ide/gagasan.
  • Menggalakkan & menerima daya usaha & autonomi (kemandirian) murid.
  • Menggalakkan murid bertanya dan berdialog dengan murid & guru.
  • Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran.
  • Menggalakkan proses inkuiri (proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan obsevasi dan atau eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berfikir kritis dan logis) melalui kajian dan eksperimen. 

      F.      PrinsipResume Teori Belajar Konstruktivisme


  • Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri.
  • Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.
  • Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.
  • Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar/kondusif.
  • Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa.
  • Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan.
  • Mencari dan menilai pendapat siswa.
  • Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.

        G.    Aplikasi teori dalam pembelajaran

Tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi,
Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. Selain itu, latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan
Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.


Sumber :
Prima, Ade. 2012. Teori Belajar Konstruktisme,  (Online) (http://ade-prima.blogspot.com/2012/09/teori-konstruktivisme.html), diakses 20 November 2013
Nanang, Wahid. 2009. Teori Belajar Konstruktisme, (Online), (http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi makalah-tentang/teori-belajar-konstruktivisme+teori+belajar+bermakna&hl=id&ct=clnk&cd=6&gl=id&client=chrome-a), di akses 20 November 2013
 

resume teori belajar Kognitif Gestalt

A. Konsep Dasar

Teori belajar Gestalt (Gestalt Theory) ini lahir di Jerman tahun 1912 dipelopori dan dikembangkan oleh Max Wertheimer (1880 – 1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving, dari pengamatannya ia menyesalkan penggunaan metode menghafal di sekolah, dan menghendaki agar murid belajar dengan pengertian bukan hafalan akademis. Sumbangannya ini diikuti tokoh-tokoh lainnya, seperti Wolfgang Kohler (1887 – 1959) yang meneliti tentang “insight” pada simpanse yaitu mengenai mentalitas simpanse (ape) di pulau Canary. Kurt Koffka (1886 – 1941) yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan, dan Kurt Lewin (1892 – 1947) yang mengembangkan suatu teori belajar (cognitif field) dengan menaruh perhatian kepada kepribadian dan psikologi sosial.

Tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada proses berfikir atau kognitif, yaitu suatu tindakan untuk mengenal, memahami, dan memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Dalam situasi belajar, seseorang akan selalu terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh temuan-temuan dari proses berpikir yang dilakukan (insight), sebelum muncul tingkah laku atau keputusan untuk pemecahan masalah yang dihadapi. Jadi kaum kognitifis berpandangan, bahwa tingkah laku seseorang lebih bergantung dan ditentukan kepada pemahaman terhadap hubungan – hubungan yang ada didalam suatu situasi. Mereka memberi tekanan pada organisasi pegamatan atas stimuli di dalam lingkungan serta pada factor yang mempengaruhi pengematan tersebut. Para ahli psikologi kognitif menaruh perhatian besar pada proses mental yang dialami oleh setiap individu selama belajar. Tingkah laku yang tampak dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat diukur tanpa melibatkan proses mental, seperti: kehendak, kesukarelaan, kesengajaan, motivasi, keyakinan, pelibatan, dan sebagainya. Belajar bukan sekadar pengulangan hubungan antara stimulus dengan respons yang disertai pengamatan, melainkan belajar sebagai peristiwa mental melibatkan proses berpikir dan bernalar yang kompleks sifatnya. Tingkah laku nyata hampir semuanya tampak dalam aktivitas belajar. Hal itu dilakukan bukan semata-mata respons atau stimulus yang ada, melainkan yang lebih penting adalah dorongan mental yang diatur oleh pola berpikirnya.

B. Tokoh Dari Teori

Jean Piaget
David Ausubel
Max Wertheimer (1880-1943)
Kurt Lewin (1890-1947)
Kurt Koffka (1886-1941)
Wolfgang Kohler (1887-1967)
Jerome Bruner

C. Asumsi

Max Wertheimer (1880-1943) : Ia meneliti tentang pengamatan dalam problem solving. dari pengamatannya, ia sangat menyesalkan penggunaan metode menghafal disekolah dan menghendaki agar murid dengan pengertian bukan hafalan akademis.

Wolfgang Kohler (1887-1967) : Teori yang disampaikan oleh Kohler berdasarkan pada penelitiannya pada seekor monyet dipulau Cannary yang dikembangkan dari Teori Gestalt. Kohler Menyatakan bahwa belajar adalah cara mencapai hasil dengan proses yang didasarkan dengan insight.

Jerome Bruner : Menurutnya, pembelajaran hendaknya dapat menciptakan situasi agar mahasiswa dapat belajar dari diri sendiri melalui pengalaman dan eksperimen untuk menemukan pengetahuan dan kemampuan baru yang khas baginya. dalam hai ini Bruner membedakan menjadi tiga tahap. antara lain : (1) tahap informasi, yaitu tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau pengalam baru, (2) tahap transformasi, yaitu tahap memahami, mencerna dan menganalisa pengetahuan baru serta mentransformasikan dalam bentuk baruyang mungkin bermanfaat untuk hal yang lain, dan (3) evaluasi, yaitu untuk mengetahui apakah hasil transformasi pada tahap kedua tadi benar atau tidak.

Kurt Lewin : Ia mengembangkan suatu teori belajar Conitive-Field dengan menaruh perhatian kepada kepribadian dan psikologi sosial. Menurut Lewin, belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif. Ia berpendapat bahwa tingkah laku merupakan hasil interaksi antar kekuatan baik yang berasal dari individu seperti tujuan, kebutuhan, tekanan jiwa maupun yang berasal dari luar individu seperti tantangan dan permasalahan.

D. Kelebihan dan kekurangan

(+)

Meningkatkan problem solving,

Meningkatkan motivasi.

(-)

Keberhasilan pembelajaran tidak dapat diukur dengan satu orang siswa saja, maksudnya kemampuan semua siswa mesti di perhatikan,

Konsekuensinya pada lingkungan adalah fasilitas harus ada dan memenuhi standar

E. Karakteristik

Mempunyai hukum keterdekatan, hukum ketertutupan, dan hukum kesamaan.
Proses pembelajaran secara terus-menerus dapat memperkuat jejak ingatan peserta didik
Adanya pemahaman belajar insight (penelitian; pengamatan; pemahaman)

F. Prinsip

Principle of Proximity
Principle of Similarity (kesamaan)
Principle of Objective Set
Principle of Continuity
Principle of Good Form
Principle of Figure & Ground
Principle of Isomorphism (persepsi merespon stimulus)


G. Aplikasi Teori dalam pembelajaran

Pengalaman tilikan (insight), artinya pengalaman tersebut di kaitkan dengan unsur-unsur yang ada di dalam suatu fenomena atau disiplin,

Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning), artinya kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran,

Perilaku bertujuan (purposive behaviour), artinya sikap atau perilaku harus mempunyai tujuan tertentu agar memiliki daya optimalisasi dalam proses pembelajaran,

Prinsip ruang hidup (life space),

Transfer dalam belajar,

Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengemukakan gagasannya,

Menciptakan lingkungan yang kondusif.

Sumber :
catatan pribadi
kurnia, ardian. 2012, "tokoh teori belajar" http://aldimadrista.blogspot.com/
 

Teori Belajar Behaviorisme

·         Konsep Dasar Teori Belajar Behaviorisme
Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik (feedback) yang positif atau negatif terhadap perilaku kondisi yang diinginkan. Hukuman (punishment) terkadang digunakan dalam menghilangkan atau meminimalisir tindakan yang salah, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang diinginkan. Pendidikan behaviorisme merupakan kunci dalam mengembangkan keterampilan dasar dan dasar-dasar pemahaman dalam semua bidang subjek dan manajemen kelas.
Premis dasar teori belajar behavioristik menyatakan bahwa interaksi antara stimulus respons dan penguatan terjadi dalam suatu proses belajar. Teori belajar behavioristik sangat menekankan pada hasil belajar, yaitu perubahan tingkah laku yang dapat dilihat. Hasil belajar diperoleh dari proses penguatan atas respons yang muncul terhadap stimulus yang bervariasi.
·         Tokoh Dari Teori Belajar Behaviorisme dan Eksperimennya
1.      Classical Conditioning Theory, dari Pavlov yang didasarkan pada reaksi sistem tak terkondisi dalam diri seseorang serta gerak refleks setelah menerima stimulus. Menurut Pavlov, penguatan berperan penting dalam mengkondisikan munculnya respons yang diharapkan. Jika penguatan tidak dimunculkan, dan stimulus hanya ditampilkan sendiri, maka respons terkondisi akan menurun dan atau menghilang. Namun, suatu saat respons tersebut dapat muncul kembali. Pada eksperimennya Pavlov melakukan percobaan terhadap anjing yang diberikan daging ketika mendengar bunyi bel, maka anjing tersebut akan mengeluarkan air liurnya, dan ketika dibunyikan bel dan daging tidak ada maka anjing tersebut tetap mengeluarkan air liurnya.
2.      Connectionism Theory, dari Thorndike menyatakan bahwa belajar merupakan proses coba-coba sebagai reaksi terhadap stimulus. Respons yang benar akan semakin diperkuat melalui serangkaian proses coba-coba, sementara respons yang tidak benar akan menghilang. Akibat menyenangkan dari suatu respons akan memperkuat kemungkinan munculnya respons. Respons yang benar diperoleh dari proses yang berulang kali yang dapat terjadi hanya jika siswa dalam keadaan siap. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000). Ada tiga hukum belajar yang utama, menurut Thorndike yakni (1) hukum efek; (2) hukum latihan dan (3) hukum kesiapan (Bell, Gredler, 1991).
3.      Teori behaviorism dari Watson, menyatakan bahwa stimulus dan respons yang menjadi konsep dasar dalam teori perilaku haruslah berbentuk tingkah laku yang dapat diamati. Interaksi stimulus dan respons merupakan proses pengkondisian yang akan terjadi berulang-ulang untuk mencapai hasil yang cukup kompleks. Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur.
4.      Teori Belajar Menurut Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam. Penguatan tingkah laku juga masuk dalam teori ini, tetapi juga dikaitkan dengan kondisi biologis (Bell, Gredler, 1991).
5.      Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguitas, yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang. Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara tepat. Peserta didik harus dibimbing dalam melakukan apa yang harus dipelajari. Dalam mengelola kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh anak (Bell, Gredler, 1991).
6.      Teori Belajar Menurut Skinner, Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu (teori behaviorisme sebelumnya), karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000). Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi, demikian seterusnya.
·         Karakteristik Teori Belajar Behaviorisme
Ciri dari teori behavioristik adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkahl laku adalah hasil belajar.
Dalam hal konsep pembelajaran, proses cenderung pasif berkenaan dengan teori behavioris. Pelajar menggunakan tingkat keterampilan pengolahan rendah untuk memahami materi dan material sering terisolasi dari konteks dunia nyata atau situasi. Little tanggung jawab ditempatkan pada pembelajar mengenai pendidikannya sendiri.
·         Prinsip/Asumsi Dasar Teori Belajar Behaviorisme
1.      Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak
2.      Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sciene, harus dihindari.
3.      Penganjur utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
4.      Dalam perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt behavior tetap terjadi.
5.      Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.
·         Kelebihan Teori Behavioristik
1.      Sangat cocok untuk memeperoleh kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti spontanitas, kelenturan, refleks, kecepatan, dan daya tahan. Seperti : mengetik, menari, menggunakan computer, olahraga, dsb.
2.      Cocok duterapkan untuk melatih anak-anak yangt masih membutuhkan peran orang dewasa, suka ,engulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti pujian atau hadiah
3.      Dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya
·         Kekurangan Teori Behavioristik
1.      Hukuman jangka panjang dapat memperburuk psikis dari peserta didik, kecuali pada teoru Skinner yang mengubah hukuman tersebut menjadi hukuman yang baik yaitu dengan anak merasakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya.
2.      Teori behavioristik tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab factor-faktor yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon.
3.      Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi peserta didik, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama.
4.      Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang dapat diamati. Tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut.
5.      Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan peserta didik untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif.
6.      Pandangan teori ini menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan.
·         Aplikasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran
Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar. Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yang sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Peserta didik diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pendidik itulah yang harus dipahami oleh murid. Oleh karena itu, para pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan standar-standar tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh para pendidik. Begitu juga dalam proses evaluasi belajar pembelajaran diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang dijangkau dalam proses evaluasi.
Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Akibatnya pebelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka.
Karena teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur, maka pebelajar atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Pebelajar atau peserta didik adalah objek yang berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri pebelajar.
Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagi aktivitas “mimetic”, yang menuntut pebelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampian yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.
Evaluasi menekankan pada respon pasif, ketrampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban yang benar. Maksudnya bila pebelajar menjawab secara “benar” sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa pebelajar telah menyelesaikan tugas belajarnya. Evaluasi belajar dipandang sebagi bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan pebelajar secara individual.
Sumber :
Robert. (2012).  “konsep dasar teori behavioristik”. [online]. Tersedia : http://robert-rober.blogspot.com/2012/01/konsep-dasar-teori-teori-belajar.html
Syahida, N. (2011). "kelebihan dan kekuranganteori behavioristik". [online]. Tersedia : http://fortunerolalala.blogspot.com/2011/12/makalah-teori-belajar-behavioristik.html